Home » 2012 » June » 28 » Beriman Kepada Yang Gaib
8:46 AM
Beriman Kepada Yang Gaib

Yang ghaib adalah sesuatu yang sesungguhnya ada namun ia seolah-olah tidak ada lantaran tidak terindera. Kebalikan dari yang ghaib adalah ilusi. Ilusi adalah sesuatu yang sesunggungnya tidak ada namun indera kita membuatnya seolah-olah ia ada dan nyata. Contoh dari sebuah ilusi yang paling nyata adalah kegelapan. Kegelapan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak ada; ia tidak mempunyai wujud, ia tidak dapat diukur, ia tidak memiliki sumber, ia bukanlah partikel, ia bukanlah zat, dan ia juga bukan sesuatu yang dapat disebut sebagai benda. Tapi lantaran indera kita seolah mengatakan bahwa ia ada dan nyata, maka kemudian ia dengan sebegitu saja kita anggap nyata ada. Contoh lain dari sebuah ilusi adalah fatamorgana yang dari kejauhan nampak oleh kita adalah air. Tapi setelah kita datangi air tersebut, kita akan mendapati tidak ada air sama sekali di sana.

Adapun untuk dunia materi; dunia dimana kita berpijak hari ini, kita tidak menyebutnya sebagai sebuah ilusi dan kita juga tidak menyebutnya sebagai sesuatu yang ghaib; melainkan kita telah biasa menyebut dan mengenalnya sebagai sesuatu yang nyata. Dan tentu saja memang seperti itulah harusnya ia kita pandang. Karena setiap kita ada di dalam tubuh yang adalah bagian resmi dari dunia materi ini. Tentu saja bukanlah hal yang sepenuhnya salah jika kemudian ada yang menganggap bahwa dunia materi sebenarnya hanyalah ilusi. Karena memang bagi ruh kita, ia hanyalah ilusi. Ia tidak ada. Artinya, tanpa telinga, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa lidah, tanpa kulit; tanpa indera; tanpa tubuh, maka kita sama sekali tidak dapat merasakan dan melihat keberadaan dunia materi ini. Namun walaupun demikian, tentu saja kita hanya dapat mengatakan bahwa dunia materi ini adalah ilusi—jika kita tidak lagi memiliki tubuh. Selama kita masih memiliki tubuh, kita masih harus menganggap dunia materi sebagai sesuatu yang nyata. Karena memiliki tubuh yang adalah berasal dari dunia materi, itu adalah berarti dunia materi inilah dunia kita hari ini. Dunia yang dipilih untuk menjadi tempat bagi kita untuk berkarya saat ini.

Apa yang harus kita pandang sebagai ilusi justru adalah kehidupan atau kesenangan dari dunia materi, dan bukan dunia materi itu sendiri. Dimana ilusifitas dari kehidupan dunia ini adalah, kita sering kali dibuatnya melihat bahwa segala kesenangan adalah berasal dan bisa kita dapat dari dunia materi. Padahal itu adalah hal yang salah dan menipu. Karena sesungguhnya kesenangan yang hakiki itu bukan berasal dari kehidupan dunia materi melainkan dari dunia rohani. Sehingga, jika kita kemudian memaksakan diri untuk mengejar kesenangan itu melaui materi, pada akhirnya kita benar-benar menyadari bahwa sebenarnya tidak ada kebahagiaan di sana. Semua itu hanyalah fatamorgana. Dan sekalipun ada kesenangan yang bisa kita reguk dari materi, ia hanyalah kesenangan kosong, bersifat sementara, dan pada akhirnya kesenangan itu benar-benar akan pergi dan menghilang dari kita. Kehidupan dunia memang adalah bagian dari kesenangan, tapi ia bukanlah sumber dari kesenangan itu sendiri, ia bukanlah kesenangan yang hakiki dan ia tidaklah kekal adanya. Dan kesenangan yang hakiki hanyalah dapat kita raih dari memiliki kesempurnaan rohani. Karena rohani adalah bagian dari diri kita yang tetap bersama kita selamanya.

Jika kita mau sedikit mempergunakan akal kita, kita dapat melihat bahwa apa yang kita sebut sebagai sesuatu yang ghaib, sebenarnya adalah lebih nyata dari apa yang kita sebut sebagai sesuatu yang nyata. Kita dapat melihat bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan nyata ini benar-benar ditunjang oleh apa yang kita sebut sebagai sesuatu yang ghaib. Semua peran dan semua pekerjaan yang secara kasatmata seolah kita lihat sebagai peran dan pekerjaan dari apa yang kita sebut sesuatu yang nyata, kita tahu bahwa sebenarnya yang ghaiblah yang berperan dibalik itu semua. Pohon misalnya. Ketika kita melihat pohon, secara kasatmata kita melihat batang pohon itulah yang terus bertumbuh semakin tinggi dan membesar, diiringi dengan daun-daunya yang terus membanyak, dan kemudian ia menghasilkan buah. Namun kita juga tahu bahwa dibalik semua itu ada ruh kehidupan pada pohon tersebut yang menyebabkan semua itu dapat terjadi. Yang jika kemudian ruh tersebut terlepas dari pohon tersebut, maka kita akan menyaksikan pohon itu akan menguning, kemudian mengering dan secara perlahan menjadi lapuk hingga akhirnya ia kembali menjadi debu tanah. Dengan kata lain, pohon yang kita lihat dengan indera kita, sebenarnya hanyalah debu tanah yang telah dihidupkan oleh kekuatan yang ghaib. Jadi, dapat kita katakan bahwa dunia materi ini sebenarnya hanyalah media bagi ruh yang ghaib untuk berkarya. Demikian jugalah halnya dengan diri kita manusia. Kita sesungguhnya adalah mahluk rohaniah yang hadir dalam dunia materi ini untuk berkarya. Dan selama kita masih memiliki tubuh materi ini, maka selama itu pula kita masih harus berkarya dalam dunia materi ini; masih memiliki tubuh materi adalah sama dengan masih diberi waktu untuk berkarya dalam dunia materi ini.

Di era digital atau era soft ware ini, tentu tidak sulit bagi kita untuk melihat bagaimana berbagai macam soft ware berkarya melalui hard ware. Soft ware-lah yang berkarya, dan hard ware-lah medianya. Dimana kita tahu bahwa soft ware adalah ghaib adanya. Ia tidak memilki berat, ia tidak memiliki warna, ia tidak memiliki bentuk, dan ia tidak memiliki bau. Kita tidak akan mendapati adanya perbedaan berat dari sebuah komputer kosong tanpa soft ware dengan sebuah komputer dengan soft ware sebesar 1.000.000 kilobyte di dalamnya. Tapi walaupun ia tidak mempunyai berat, kita tahu ia memiliki eksitensi. Dimana ia memerlukan sebuah ruang dengan kafasitas yang memadai untuk menampung eksistensinya.

Namun apa yang telah kita bicarakan di atas, semua itu barulah hanya menyentuh bagian luar dari apa yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Dan ujung atau titik sentral dari beriman kepada yang ghaib itu adalah meyakini keberadaan Allah. Keberadaan Dzat yang memiliki kuasa mutlak atas kehidupan ini. Meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya kekuatan yang menghidupkan dan mematikan dan tidak ada kuasa lain selain kuasa-Nya. Nah, beriman kepada hal demikian inilah yang adalah sebuah landasan dari ketaqwaan. Dimana dengan mengimani hal tersebut, maka berarti juga kita mengimani bahwa hanya berjalan selaras dengan hukum-hukum Allah sajalah kita akan ada dalam keselamatan dan keamanan. Hukum-hukum Allah inilah hal yang Allah berkehendak agar kita mengimplementasikannya dalam kehidupan. Dimana hidup yang demikian itulah yang kemudian akan menjadi satu-satunya cara hidup yang Ia restui dan ridhoi. Dan mereka yang bertaqwa, mereka adalah orang-orang yang telah masuk ke dalam ketaatan terhadap hukum-hukum Allah. Mereka telah mempercayakan atau meyerahkan dirinya ke dalam tangan-tangan hukum Allah. Bagi mereka, meyerahkan diri itulah bentuk asli dari sebuah iman. Karena memang kita tidak dapat berkata bahwa kita mempercayai obat pemberian sang dokter dapat menyembuhkan kita dari sakit yang kita derita, jika kemudian kita takut untuk meminumnya dan meyerahkan kesembuhan kita kepadanya.

Di sisi lain, kita juga mengetahui bahwa sebuah ketaatan hanyalah sah jika ada sesuatu yang menghalanginya. Dan oleh karena itulah kemudian kita juga melihat bagaimana Allah mengadakan sebuah kekuatan atau sebuah kehendak dalam kehidupan ini yang menghalangi kita manusia dari mentaati hukum-hukum-Nya. Kekuatan yang menghalangi inilah yang kita istilahkan dengan kekuatan Iblis. Namun kita juga tentu tidak boleh melupakan bahwa segala kekuatan sesungguhnya adalah dan hanyalah milik Allah. Apa yang kita sebut sebagai kekuatan Iblis, kekuatan jahat, kekuatan kegelapan, dan apapun sebutannya, sesungguhnya hanyalah sebuah kekuatan penghalang yang memang dengan sengaja Allah adakan karena hal itu harus ada—agar dengan itu, kita sebagai seorang hamba dapat menunjukan ketaatan, kepatuhan, ketundukan dan kesetiaan kita kepada hukum-Nya. Tanpa sebuah penghalang, dapatkan ketaatan dinilai sebagai ketaatan, kepatuhan sebagai kepatuhan, ketundukan sebagai ketundukan, dan kesetiaan sebagai kesetiaan? Dan dimanakah indahnya sebuah ketaatan jika untuk mencapainya tidak dituntut sebuah perjuangan dan pengorbanan? Bukankah begitu manis dan berharganya seorang bayi bagi sang bunda yang baru melahirkannya juga adalah karena panjangnya kesukaran dan kepayahan yang harus dilewati sang bunda untuk melahirkannya? Itulah kenapa kitab-kita suci secara tegas menyampaikan bahwa tidak ada surga tanpa perjuangan dan pengorbanan. Karena surga memang tersembunyi dibelakang dinding kejahatan dan keburukan yang harus terlebih dulu dirobohkan; surga dapat ditemukan hanya jika kita mau berjuang dan memberi perlawanan terhadap segala bentuk kekuatan dan kehendak Iblis yang ada di dalam diri kita dan di dalam kehidupan ini. Dengan kata lain, setiap kita memang terlahir untuk berkonfrontasi dengan kekuatan Iblis. Dan untuk hal itulah kita perlu dan terus menghimpun kekuatan untuk menjalani perang yang memang sudah ditakdirkan untuk kita jalani ini.

Jika dalam Kitab kita hanya mendapati adanya tuntutan untuk beriman kepada yang ghaib, sedangkan beriman kepada yang nyata kita tidak mendapati ada tuntutan demikian, hal ini adalah memang karena kepada yang ghaib sajalah iman diperlukan. Sedangkan terhadap yang nyata hal itu akan terjadi begitu saja dan tidak ada satu halpun yang menghalangi kita untuk mengimaninya. Terhadap yang ghaib, untuk mengimani keberadaan dan kebenarannya adalah hal yang tidak mudah. Kita harus mengerahkan akal kita untuk dapat mengimani keberadaan dan kebenarannya. Misalnya hukum Allah yang sangat mendasar berikut: "Segala perbuatan baik yang kita lakukan—sekecil apapun itu, demikian juga dengan perbuatan yang buruk—sekecil apapun itu, benar-benar akan didatangkan balasannya oleh Allah.” Walaupun hukum tersebut adalah sangat sederhana dan mendasar, dan sesungguhnya tidak sulit untuk dibenarkan, namun kenyataannya kebanyakan manusia tetap saja merasa sulit untuk meyakininya. Hal ini adalah karena manusia umumnya lebih terikat atau terpaku kepada hal yang bersifat materi dari pada hal yang bersifat rohani. Sehingga manusia dapat dengan mudah meyakini bahwa batu yang ia lempar ke atas akan kembali jatuh ke bawah, tapi sulit untuk melihat bahwa setiap bantahan dan pengingkaran kepada kehendak Allah hanyalah akan merugikan dirinya sendiri; manusia dapat dengan mudah menyakini bahwa sebutir jagung yang ia korbankan untuk ditanam, akan menghasilkan baginya ratusan butir jagung yang baru, tapi sulit untuk melihat bahwa setiap sen dan setiap kalori yang ia korbankan untuk kebaikan, benar-benar akan diganti dengan lipat ganda yang banyak.

 
Category: Uncategory | Views: 295 | Added by: edy | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar