8:38 AM
Persaksian Jiwa Anak Adam
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",  (QS. Al Araaf 172)
 
Mungkin tidak ada satupun dari kita yang betul-betul ingat peristiwa yang disebutkan dalam ayat di atas. Tapi meski kita betul-betul tidak ingat bahwa peristiwa itu pernah terjadi, kita tetap dapat menemukan pembenaran bahwa demikianlah adanya. Allah mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut fitrah Allah. Ada sifat-sifat Allah di dalam diri kita. Dan itu adalah kesejatian diri kita. Mencapai kesejatian itulah mencapai keadaan terbaik kita dimana kita akan merasa penuh, damai dan puas dalam keadaan itu. 
 
Setiap manusia hanya dapat menemukan damai dan kebahagiaan sejati ketika ia hidup sesuai dengan fitrah penciptaannya dan seluruh kebahagian di luar itu adalah kebahagiaan semu. Manusia diset oleh Tuhan untuk hanya dapat menggapai kebahagiaan yang sebenar-benarnya dengan menjadi orang baik. Menjadi orang yang tunduk patuh kepada hukum dan norma-norma kemanusiaan. Kenyataan ini adalah sebuah fakta. Ini merupakan hal yang berlaku sama terhadap seluruh manusia. Ia adalah hal yang dapat disaksikan dan dibuktikan langsung oleh setiap manusia. Dan ini adalah sebuah pembenaran bahwa jiwa manusia adalah jiwa merindukan Tuhannya. Jiwa yang akan gelisah dan resah ketika jauh dan lupa kepada Tuhannya.
 
Memahami hal ini adalah berarti memahami maksud atau fitrah penciptaan kita. Dan dengan memahami hal ini maka kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan. Kita menjadi mengerti apa yang harus kita utamakan dan apa yang harus kita tinggalkan. Dengan pemahaman inilah kita menata hidup kita agar selaras dengan fitrah kita. Sejalan dengan suara jiwa terdalam kita. Kita menjadi dapat membedakan mana kebahagian yang semu dan mana kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita tahu betul bahwa kebutuhan dan kerinduan terdalam kita adalah menggapai Cinta Allah. 
 
Category: Uncategory | Views: 405 | Added by: edy | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar