Home » 2014 » November » 29 » KEMATIAN DAN SENI MENGHADAPI PROSES KEMATIAN
9:28 AM
KEMATIAN DAN SENI MENGHADAPI PROSES KEMATIAN

OSHO YANG TERKASIH, DAPATKAH ENGKAU MENJELASKAN MENGENAI KEMATIAN DAN SENI MENGHADAPI PROSES KEMATIAN ITU?

BELOVED OSHO, CAN YOU SAY SOMETHING ABOUT DEATH AND THE ART OF DYING?

Deva Vandana (nama si penanya), hal pertama yang perlu diketahui tentang kematian adalah kematian itu adalah kebohongan, tidak benar adanya. Tidak ada kematian, kematian adalah hal yang paling bersifat khayalan (ilusi). Kematian adalah bayangan dari kebohongan yang lain. Nama dari kebohongan yang lain itu adalah ego. Kematian adalah bayangan dari ego. Karena adanya ego, kematian muncul disana. Rahasia untuk mengetahui kematian, untuk memahami kematian, bukanlah pada kematian itu sendiri. Engkau harus menyelami lebih dalam dari keberadaan ego. Engkau harus menengok, melihat, mengamati, sadar akan apa sebenarnya ego itu. Dan ketika engkau menemukan bahwa ego itu tidak ada, tidak pernah ada, hanya seolah-olah ada karena engkau tidak sadar, ia terlihat ada karena engkau membiarkan dirimu dalam kegelapan, ketika engkau mengerti bahwa ego hanyalah ciptaan dari pikiran yang tidak sadar, maka ego lenyap dan diikuti dengan lenyapnya kematian.

Deva Vandana, the first thing to be known about death is that death is a lie. Death exists not; it is one of the most illusory things. Death is the shadow of another lie -- the name of that other lie is the ego. Death is the shadow of the ego. Because the ego is, death appears to be there. The secret of knowing death, of understanding death, is not in death itself. You will have to go deeper into the existence of the ego. You will have to look, watch, observe, be aware of what this ego is. And the day you have found that there is no ego, that there has never been -- it appeared only because you were not aware, it appeared only because you were keeping your own existence in darkness -- the day it is understood that the ego is a creation of an unconscious mind, the ego disappears and simultaneously death disappears.

Dirimu yang sejati adalah abadi. Kehidupan tidak pernah dilahirkan juga tidak pernah mati. Samudera tetap ada, ombaklah yang datang dan pergi – tetapi apa itu yang disebut ombak? Hanya wujud, angin yang bermain-main dengan samudera. Ombak tidak memiliki keberadaan yang mendasar atau susbstansial. Begitu juga dengan kita, kita adalah ombak, sesuatu yang bermain-main. Tetapi jika kita melihat lebih dalam ke dalam ombak yang ada adalah samudera, dan kedalamannya yang abadi dan misteri yang tak dapat diduga. Lihatlah lebih dalam ke dalam dirimu dan engkau akan menemukan samudera. Dan samudera itu ada, dan selalu ada. Engkau tidak dapat mengatakan ia pernah ada, engkau tidak dapat mengatakan ia akan ada. Engkau hanya dapat menggunakan satu keterangan waktu, yaitu waktu saat ini. Ia ada.

The real you is eternal. Life is neither born nor dies. The ocean continues, waves come and go -- but what are waves? Just forms, the wind playing with the ocean. Waves have no substantial existence. So are we, waves, playthings. But if we look deep down into the wave there is an ocean, and the eternal depth of it and the unfathomable mystery of it. Look deep down into your own being and you will find the ocean. And that ocean is; the ocean always is. You cannot say, "It was," you cannot say, "It will be." You can only use one tense for it, the present tense: it is.

Inilah yang dicari-cari oleh semua agama. Pencarian itu adalah untuk mencari apa yang benar-benar ada, yang sejati. Kita telah menerima segala sesuatu yang bukan sebenarnya, bukan yang sejati, dan yang terbesar yang menjadi pusatnya adalah ego. Dan tentu saja ia menimbulkan bayangan yang besar, dan bayangan itu adalah kematian.

This is the whole search of religion. The search is to find that which truly is. We have accepted things which really are not, and the greatest and the most central of them is the ego. And of course it casts a big shadow -- that shadow is death. 

Mereka yang mencoba memahami kematian secara langsung tidak akan dapat masuk kedalam misteri dari kematian. Mereka akan bergulat dengan kegelapan. Kegelapan itu tidak ada, engkau tidak dapat bergulat dengannya. Bawa cahaya, dan kegelapan tidak ada lagi. Bagaimana kita dapat mengetahui ego? Bawa kesadaran kedalam hidupmu. Setiap tindakan harus dilakukan tidak dengan begitu otomatis dibandingkan dengan tindakan sebelum-sebelumnya, dan engkau memiliki kuncinya. Jika engkau berjalan, jangan berjalan seperti robot. Jangan berjalan seperti engkau biasanya berjalan, jangan lakukan secara mekanis. Bawa sedikit kesadaran kedalamnya, perlahan, biarlah setiap langkah diambil dengan kesadaran penuh.

Those who try to understand death directly will never be able to penetrate into the mystery of it. They will be fighting with darkness. Darkness is nonexistential, you cannot fight with it. Bring light, and the darkness is no more. How can we know the ego? Bring a little more awareness to your existence. Each act has to be done less automatically than you have been doing up to now, and you have the key. If you are walking, don't walk like a robot. Don't go on walking as you have always walked, don't do it mechanically. Bring a little awareness to it, slow down, let each step be taken in full consciousness.

Buddha selalu mengatakan kepada murid-muridnya bahwa jika engkau mengangkat kaki kirimu, di dalam hatimu katakan “kiri”. Ketika engkau mengangkat kaki kananmu, di dalam benakmu katakan “kanan”. Pertama-tama ucapkanlah, sehingga engkau menjadi terbiasa dengan proses yang baru ini. Lalu perlahan-lahan biarkan kata-kata itu lenyap, ingatlah saja “kiri, kanan, kiri, kanan.” Coba lakukan dalam tindakan-tindakan kecil. Engkau tidaklah harus melakukan tindakan yang besar. Makan, mandi, berenang, berjalan, berbicara, mendengar, memasak makananmu, mencuci bajumu—cobalah membuatnya menjadi tidak otomatis. Ingatlah kata “menjadikannya tidak otomatis” (deautomatization), inilah seluruh rahasia untuk menjadi sadar.

Buddha used to say to his disciples that when you raise your left foot, deep down say "Left." When you raise your right foot, deep down say "Right." First say it, so that you can become acquainted with this new process. Then slowly slowly let the words disappear; just remember "Left, right, left, right." Try it in small acts. You are not supposed to do big things. Eating, taking a bath, swimming, walking, talking, listening, cooking your food, washing your clothes --deautomatize the processes. Remember the word deautomatization; that is the whole secret of becoming aware.

Diambil dari : The Book of Wisdom. (Ceramah mengenai tujuh point latihan pikiran Atisha). Bab 14. Guru-guru yang lain dan lain-lainnya. Diberikan pada 24 Pebruari 1979 pagi, di Buddha Hall.

Taken from: The Book of Wisdom (Discourses on Atisha's Seven Points of Mind Training). Chapter. 14. Other Gurus and Etceteranandas. 24 February 1979 am in Buddha Hall

Category: Paham Osho | Views: 315 | Added by: edy | Tags: kehidupan, kematian, osho | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar