menu

5:53 AM
Agama dan Kupu-kupu

Kita tahu bahwa ketika seekor ulat terlahir, dia tidak saja hanya terlahir sebagai seekor ulat, melainkan juga sesungguhnya terlahir sebagai atau untuk menjadi seekor kupu-kupu. Menjadi seekor ulat hanyalah sebuah fase yang harus dilewatinya untuk kemudian menjadi kupu-kupu. Ya, menjadi kupu-kupu itulah sempurnanya penciptaan seekor ulat. Pertanyaannya adalah, kenapa Tuhan tidak sedari awal menciptakan kupu-kupu langsung sebagai kupu-kupu tanpa terlebih dulu menciptakannya sebagai ulat? Hal ini dikarenakan jika ketika telur kupu-kupu itu menetas langsung sebagai bayi kupu-kupu, bayi kupu-kupu tadi tidak akan dapat bertahan hidup. Akan sangat sulit baginya jika harus menempuh jarak yang sedemikian jauh untuk mendatangi bunga demi bunga. Seekor kupu-kupu, ketika ia terlahir, dia harus terlahir sebagai kupu-kupu yang besar dan dewasa. Dan oleh karenanya untuk dapat terlahir sebagai kupu-kupu besar dan dewasa tadi dia harus menjadi ulat terlebih dulu. Dia harus menjadi mesin pemakan yang melahap daun-daun disekitarnya untuk berkembang. Hal itu harus dilakukannya terus menerus lagi dan lagi untuk dapat menjadi ulat yang besar. Akibat dari itu semua adalah kita akan mendapai pohon-pohon yang rusak dan menjadi compang-camping daunnya akibat ulah ulat tadi. Ya, itu memang harus dilakukannya untuk dapat menjadi ulat yang besar dan siap untuk memasuki fase penciptaan yang berikutnya. Menjadi seekor kupu-kupu.

 

 

Untuk merubah diri dari seekor ulat menjadi seekor kupu-kupu, sang ulat harus terlebih dulu menjadi atau masuk dalam sebuah kepompong. Kepompong itu sendiri bukanlah pembungkus yang berasal dari luar dirinya melainkan berasal dari dirinya sendiri. Pembungkus yang berasal dari benang-benang halus atau cairan transfaran untuk menutup dirinya beberapa waktu. Di dalam kepompong itulah keajaiban terjadi. Sang ulat benar-benar berubah secara ekstrim. Merubah diri menjadi kupu-kupu yang amat sangat berbeda dengan dirinya semula. Sang ulat benar-benar telahir menjadi dirinya yang baru. Kupu-kupu dengan dua sayapnya yang menawan, dengan warna-warnanya yang cantik, yang terbang ke sana ke mari menghinggapi bunga-bunga untuk membantu penyerbukan, yang menghisap beragam madu yang disediakan beragam bunga untuknya, dan yang tidak lagi merusak daun-daun tanaman seperti yang dilakukannya semasa menjadi ulat. Ya, inilah sempurnanya penciptaan seekor ulat. 

 

 

Perjalanan agama-agama serupa dengan perjalanan ulat tadi. Agama-agama yang kita kenal pada saat ini sesungguhnya barulah melewati satu fase penciptaannya. Kesemuanya terlahir dari era yang sama. Era imperialisme. Sehingga sifat imperialis yang menjadi warna zaman pada saat itu, secara tidak langsung menjadi bagaian yang tidak terpisahkan dari agama, walaupun sejatinya imperialisme bukanlah ajaran hakiki dari agama itu sendiri. Imperialisme yang ada dalam agama hanyalah sebuah budaya yang menjadi bagaian dari agama lantaran paksaan zaman. Zamanlah yang membuat agama menjadi tidak mungkin untuk tidak mengambil sifat imperialime sebagai bagain dari dirinya. Walau demikian imperialisme yang menjadi bagian dari agama lantaran sebab zaman, dapatlah disebut sebagai bagian dari kebenaran untuk agama saat itu. Itu bagian dari fase penciptaan agama. Karena agama harus berkembang besar dan meluas serta harus mempunyai sebanyak mungkin pengikut dan penganut. Yang oleh karenanya membuat agama harus berekspansi menemui orang demi orang, mendatangi kelompok demi kelompok, memasuki kota demi kota bahkan mendatangi negeri demi negeri untuk memperbanyak pengikut dan menjadi besar. Yang seringkali peperangan menjadi sebuah hal yang tidak dapat dihindari dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ya, kesemuanya itu memanglah menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dihindari oleh agama. Seperti ulat yang harus menjadi mesin pemakan yang mendatangi daun demi daun dan pohon demi pohon untuk menjadi besar. Tapi sekali lagi itu bukanlah sejatinya agama. Ini bukanlah akhir dari penciptaan sebuah agama. Ini hanyalah sebuah fase yang harus dilewati untuk memasuki fase berikutnya. Karena sejatinya agama adalah tanpa imperialisme padanya. 

Bagi ulat, sempurnanya ia sebagai ulat tidaklah berarti sama dengan telah sempurnanya penciptaannya baginya. Sempurnanya penciptaannya baginya adalah ketika ia telah menjadi kupu-kupu yang sempurna. Hal ini berlaku juga untuk perjalanan agama-agama. Menjadi agama yang sempurna pada era imperialisme tidaklah berarti sama dengan telah sempurnanya penciptaanya baginya. Sempurnanya penciptaan agama adalah ketika agama telah sepenuhnya lepas dari sifat imperialisme dan dapat menghormati keberagaman dan mengakui kesetaraan. Lalu bagaimanakah jalan bagi agama untuk dapat melepaskan diri dari sifat imperialisme yang telah terlanjur mendarah daging dalam diri agama tersebut? Serupa dengan ulat yang imperialis berubah menjadi kupu-kupu yang cinta damai melaui kepompong, demikian juga agama harus masuk atau terlebih dulu menjadi kepompong. Dan bagi agama-agama, kepompong atau mesin perubah genetika yang akan membawa mereka pada bentuk baru yang telah sepenuhnya lepas dari sifat imperialisme dan menghormati keberagaman serta mengakui kesetaraan adalah Pancasila yang berdiri di atas dasar spirit UUD45. Kenapa Pancasila dan UUD45? Karena seperti telah disampaikan oleh Pak Irwan di Group 4Pilar ini, bahwa Satu-satunya Surat yang menolak imperialisme; yang menyatakan bahwa penjajahan di atas muka bumi ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan hanyalah Surat UUD45 tersebut. Belum ada satu Surat dari manapun dan dari agama apapun yang berisi pernyataan serupa itu. Dan Pancasila dan UUD 45 itu sendiri sesungguhnya bukanlah sesuatu yang bersumber atau berasal dari luar agama itu sendiri, melainkan merupakan esensi atau sejatinya ajaran dari agama-agama. Yakni Ketuhanan dan Kemanusiaan. Melalui Pancasila dan UUD 45 ini lah nantinya agama-agama akan lahir sebagai dirinya yang baru. Sebagai dirinya yang sejati. Menjadi agama sebagaimana harusnya agama. Yang telah terbebas dari sifat imperialisnya, yang cinta damai, yang menaburkan pesan kedamaian ke berbagai penjuru, yang membantu setiap anak manusia untuk berevolusi, yang menyatukan umat manusia dalam kebersamaan, yang menghormati keberagaman, yang mengakui kesetaraan, yang menjujung tinggi kemerdekaan dan perdamaian abadi.

Category: Uncategory | Views: 499 | Added by: edy | Tags: metamorfosis, agama, pancasila | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar