Home » Guru Spiritual

1931 - 1953 Early Years

December 11,1931: Osho is born in Kuchwada, a small village in the state of Madhya Pradesh, central India.

He is the eldest of eleven children of a Jaina cloth merchant. Stories of His early years describe Him as independent and rebellious as a child, questioning all social, religious and philosophical beliefs. As a youth He experiments with meditation techniques.

March 21, 1953: \o becomes enlightened at the age of twenty-one, while majoring in philosophy at D.N. Jain college in Jabalpur.

1953 - 1956 Education 

1956: Osho receives His M.A. from the University of Sagar with First Cl ... Read more »

Category: Guru Spiritual | Views: 602 | Added by: edys | Date: 2015-05-06 | Comments (0)

Deepak Chopra merupakan pria kelahiran India yang menjadi seorang dokter, pembicara, dan penulis di Amerika Serikat. Nama Chopra semakin populer setelah dirinya menjadi guru spiritual bagi para selebritis disana. Chopra lahir di New Delhi, India pada tanggal 22 October 1946. Ayahnya, Krishan Chopra berprofesi sebagai dokter sepesialis bedah jantung yang terkenal di India. Anggota keluarga Chopra kebanyakan memang bekerja sebagai seorang dokter, diawali dari kakek Chopra yang menjadi sersan sekaligus dokter di Angkatan Darat Inggris. 

Chopra menyelesaikan pendidikan dasarnya di Saint Columba's School, New Delhi yang kemudian dia lanjutkan di All India Institute of Medical Sciences (AIIMS). Pada tahun 1968, Chopra memutuskan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Setiba disana, Chopra langsung mengikuti kursus medis yang dia ... Read more »

Category: Guru Spiritual | Views: 574 | Added by: edys | Date: 2015-04-02 | Comments (0)

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma). 

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun. 

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari ... Read more »

Category: Guru Spiritual | Views: 612 | Added by: edy | Date: 2014-03-26 | Comments (0)

Pria berkacamata kelahiran Bali ini sukses meniti karir yang gemerlap dan cemerlang hingga kursi tertinggi jabatan (CEO) pada banyak perusahaan. Namun, kesuksesan yang tak diraihnya dalam waktu sekejap tersebut nyatanya 'dilempar' begitu saja menginjak usianya yang ke-39.
Sebuah goncangan hebat mampir dalam kehidupan Gede Prama menginjak usia 39 tahun.

Berturut-turut dalam kurun waktu tak sampai tiga tahun, ketiga orang yang ia cintai meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ayah, ibu, dan ibu mertuanya meninggal bersamaan dengan cobaan berat yang melilitnya di kantor. Saat itu, ia mengaku bahwa semakin keras dan semakin memberontak ia pada keadaan, maka semakin ia tidak berdaya. Lalu, perlahan-lahan ia mulai melepaskan diri dan berserah pada keadaan, dan saat itulah ia mulai memasuki dunia sufi.
Category: Guru Spiritual | Views: 933 | Added by: edy | Date: 2014-03-25 | Comments (0)

Seorang rekan yang pernah dikirim ke rumah sakit jiwa untuk menjalani test menjadi manusia waras, punya pengalaman menarik. Hanya karena tanda tangannya yang dianggap aneh oleh seorang dosen, maka jadilah dia salah satu kandidat penghuni rumah sakit jiwa. Pertanyaan pewawancara yang sering diulang-ulang adalah tentang nama orang tua. Di awal ditanya, di pertengahan ditanya, dan terakhir ditanya lagi. Untungnya, dia bisa menjawab dengan nama orang tua yang sama. Sehingga loloslah dia dari stempel sebagai orang gila. Menurut rekan ini, inti dari seluruh test ini hanya soal ingatan.

Saya memang bukan seorang pakar psikiatri. Rekan di atas, yang mengidentikkan waras atau gila hanya berkaitan dengan ingatan, tentu saja terlalu sederhana. Namun, sangat penting bagi manusia normal untuk memiliki ingatan yang sehat.

Sayang seribu sayang, ada banyak sekali konsep manajemen - terutama yang berbentuk manual - yang tidak membuat kita semakin sehat di sektor ingatan. Sebaliknya, bahkan membuat kita semakin pelupa dari hari ke hari.

Sebut saja manual Philip Kotler dalam bentuk segmentation, targetting, positioning (biasa disingkat STP) yang sampai sekarang masih ditempatkan ... Read more »
Category: Guru Spiritual | Views: 541 | Added by: edy | Date: 2012-08-12 | Comments (0)

Oleh: Gede Prama

Menjadi presenter di depan sejumlah pemimpin perusahaan minyak, menurut saya sering menantang dan memberi inspirasi. Menantang, karena berhadapan dengan sekumpulan orang brilian yang bisa menjadi sparring partner yang meyakinkan. Memberi inspirasi, sebab dengan tantangan-tantangan yang maha berat, kemudian kepala saya bisa mengeluarkan sesuatu yang tidak terfikirkan sebelumnya.

Di Hyatt Regency Bandung pada awal Desember 1998 lalu, untuk sekian kalinya saya menemukan pengalaman menantang dan penuh inspirasi ini. Sejumlah insinyur menghujani saya dengan pertanyaan tentang kualifikasi seseorang yang layak menjadi pemimpin.

Sebagaimana pernah saya tulis di lain kesempatan, dalam hubungan antarmanusia, orang lain sebenarnya cermin kita. Bila melihat muka jerawat di cermin, tentu saja yang diobati muka kita, bukan cerminnya. Hal yang sama juga berlaku bagi setiap gangguan dalam hubungan kepemimpinan. Mencari kesalahan di orang lain - kendati kadang berhasil membuahkan perubahan yang temporer - sama saja dengan mengobati jerawat di cermin.

Berdiri di atas keyakinan terakhir, setiap bentuk kualitas hubungan kepemimpinan, sangat diwarnai oleh se ... Read more »
Category: Guru Spiritual | Views: 498 | Added by: edy | Date: 2012-08-12 | Comments (0)

Oleh: Gede Prama

Dalam dunia olah raga kita, sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang jarang prestasinya membanggakan. Tentu saja, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, sulit mengingkari sebuah kenyataan, bahwa sepak bola adalah sejenis permainan yang amat bertumpu pada kecermatan mengelola perbedaan.
Sayangnya, tidak ada cabang olah raga baris berbaris yang diperlombakan. Coba kalau ada, saya yakin - lebih-lebih jika yang mewakili adalah sahabat kita dari ABRI - kita tidaklah mengecewakan.
Beda fundamental antara kedua jenis olah tubuh ini, sepak bola memerlukan perbedaan sebagai sarat utama, sedangkan dalam baris berbaris perbedaan ditekan sekecil-kecilnya. Keliru dalam baris berbaris, maka celakalah akibatnya.
Manajemen publik kita, kalau mau jujur, lebih dekat ke manajemen baris berbaris dibandingkan sepak bola. Bila ada pakar ekonomi politik mengkritik tentang aspek KKN dalam kontrak karya Free Port, disebut menghina pemerintah. Jika ada demonstrasi, disebutlah mereka antek komunis. Setiap inci perbedaan, bukannya dirangkai dan dikelola, malah ditempatkan sebagai kekeliruan yang mengganggu ketenteraman penguasa.
Padahal, a ... Read more »
Category: Guru Spiritual | Views: 493 | Added by: edy | Date: 2012-08-12 | Comments (0)

Oleh: Gede Prama

Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : 'never give up' (jangan pernah berhenti).
Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.
Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder. Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal 'T' yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.
Tidak bisa tidur beberapa minggu, stres atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid ... Read more »
Category: Guru Spiritual | Views: 507 | Added by: edy | Date: 2012-08-12 | Comments (0)

Oleh: Gede Prama

Pertanyaan reflektif paling sering yang dilontarkan manusia sepanjang sejarah, adalah kekayaan manakah yang bisa disebut paling berguna dalam hidup? Saya sendiri termasuk orang yang cukup sering diberondong dengan pertanyaan terakhir. Klien, peserta seminar, murid, teman seperjalanan, rekan main golf atau bawahan di kantor adalah spesies manusia yang amat sering bertanya soal ini ke saya.

Sebagaimana pertanyaan reflektif lainnya, pertanyaan tentang kekayaan hidup ini juga tidak memiliki jawaban obyektif dan universal. Jawaban terhadap pertanyaan ini bersifat bergerak. Sejalan dengan kedalaman refleksi setiap orang, ada yang menyebut uang, mobil, rumah, keluarga yang penuh perhatian, badan yang sehat, fikiran meditatif atau malah yang lain.

John Clements, sebagaimana yang ia tulis dalam Personal Excellence edisi Juni 1999, menyebut kekayaan hidup paling berguna mencakup nobility, creativity, aspirations, visions, and hope for the future.

Saya cenderung menggaris bawahi hal yang terakhir: harapan akan masa depan. Hidup tanpa harapan, adalah sama saja melewati kehidupan hanya dengan menunggui matahari. Besok pagi pasti terbit di timur, d ... Read more »

Category: Guru Spiritual | Views: 519 | Added by: edy | Date: 2012-08-12 | Comments (0)