Home » 2014 » December » 28 » Sejarah Agama Baha’i
8:07 AM
Sejarah Agama Baha’i

“Begitu kuat cahaya kesatuan sehingga dapat menerangi seluruh bumi – Bahá’u’lláh

Agama Bahá’í bermula pada tahun 1844 dengan sebuah misi yang diumumkan oleh Sang Báb selaku pembawa pesan akan kedatangan Bahá’u’lláh. Pada hari ini, sifat kesatuan yang menjadi ciri khas Agama yang mereka dirikan ini berasal dari perintah langsung oleh Bahá’u’lláh, yang menjamin keberlangsungan Agama-Nya setelah beliau wafat. Garis penerus-Nya, yang dikenal sebagai Perjanjian Bahá’u’lláh terdiri dari Putra-Nya Abdu’l-Bahá, lalu diteruskan kepada cucu ‘Abdul-Bahá yaitu Shoghi Effendi dan terakhir adalah Balai Keadilan Sedunia sesuai dengan perintah dari Bahá’u’lláh. Seorang Bahá’í menerima dan mengakui otoritas ilahi dari Sang Báb dan Bahá’u’lláh dan para penerus-Nya.

Sang Báb – Bentara Agama Bahá’i (1819-1850)

Pada pertengahan abad ke-19, salah satu masa yang paling bergejolak dalam sejarah dunia, seorang pedagang muda mengumumkan bahwa Dia adalah pembawa pesan yang bertujuan untuk mentransformasikan kehidupan sosial dan rohani umat manusia. Pada saat di negaranya sendiri, Persia sedang mengalami keruntuhan moral yang luas. Pesan yang di bawa-Nya menimbulkan kegembiraan dan harapan diantara berbagai golongan masyarakat, dan dengan cepat mendapatkan ribuan pengikut. Dia mengambil gelar “Sang Báb” yang berarti “Gerbang”.

“Kemunculan Sang Báb menyerupai fajar, karena fajar menjanjikan matahari, Fajar Sang Báb menjanjikan terbitnya Matahari Kebenaran yang akan meliputi seluruh dunia.” Abdu’l Bahá
Melalui panggilan-Nya untuk menuju reformasi moral dan rohani, dan perhatian-Nya terhadap peningkatan derajat wanita dan kaum miskin, ajaran Sang Báb bagi pembaharuan rohani sangat revolusioner. Pada saat yang sama, Beliau juga mendirikan satu agama yang independen dan menginspirasi pengikutnya untuk mentransormasi hidup mereka dan menjalankan banyak tindakan kepahlawanan.

Sang Báb mengumumkan bahwa umat manusia sedang berada di ambang suatu era baru. Misi Beliau – yang hanya berlangsung selama Sembilan tahun – adalah untuk mempersiapkan jalan bagi datangnya seorang Perwujudan Tuhan yang memulai suatu masa penuh kedamaian dan keadilan universal.

Bahá’u’lláh – Pendidik Ilahi (1817-1892)

Sepanjang sejarah, agama-agama yang agung telah menjadi kekuatan yang utama dalam memajukan peradaban manusia dan karakternya, meminta pengikutnya untuk mendisiplinkan diri, pengabdian dan kepahlawanan. Secara sosial, ada banyak prinsip-prinsip moral dalam agama yang telah diterjemahkan menjadi suatu kode etik yang universal bagi hubungan antar umat manusia.

Pada pertengahan abad ke-19, Tuhan telah memanggil Bahá’u’lláh – yang berarti “Kemuliaan Tuhan” untuk membawa suatu wahyu baru bagi umat manusia. Selama 40 tahun mengalir dari pena-Nya ribuan tulisan, surat dan buku-buku. Dalam tulisan-Nya, Dia memberikan kerangka kerja bagi pembangunan sebuah peradaban global yang meliputi dimensi rohani dan materi bagi kehidupan manusia.

“Aku tidak pernah mengharapkan kekuasaan duniawi. Tujuan-Ku satu-satunya adalah untuk menyampaikan kepada manusia apa yang telah Tuhan sampaikan pada-Ku…” Bahá’u’lláh

Sebagaimana apa yang dialami seluruh pewahyu agama lainnya, Bahá’u’lláh menderita pemenjaraan penyiksaan, penghinaan dan dan pengasingan selama lebih dari 40 tahun demi membawa pesan Tuhan bagi umat manusia. Saat ini, kehidupan dan Misi-Nya telah makin dikenal diseluruh dunia. Jutaan orang sedang belajar menerapkan ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat mereka demi mewujudkan dunia yang lebih baik.

“Inilah Hari ketika Tuhan telah mencurahkan kepada manusia berbagai karunia-Nya yang terunggul, Hari ketika rahmat-Nya yang maha agung ditanamkan ke dalam semua ciptaan. Diwajibkan kepada semua bangsa di dunia untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan mereka, dan dengan persatuan dan perdamaian yang sempurna hidup di bawah naungan Pohon pemeliharaan dan kasih sayang Tuhan. Mereka seyogianya berpegang teguh pada apa saja yang akan mengakibatkan keluhuran martabat mereka di Hari ini, serta memajukan kepentingan mereka yang terbaik…” Bahá’u’lláh

Abdu’l Bahá – Teladan yang sempurna (1844-1921)

Selama tahun-tahun awal dari abad ke-20, ‘Abdu’l-Bahá , putra pertama Bahá’u’lláh adalah Juru Tafsir Agama Bahá’i satu-satunya. Dia dikenal sebagai pejuang bagi keadilan sosial dan duta internasional untuk perdamaian.

Mempertahankan kesatuan merupakan prinsip fundamental dari ajaran-ajaran-Nya, Bahá’u’lláh mendirikan perlindungan yang diperlukan bagi agama-Nya agar tidak terbagi menjadi sekte-sekte ketika pendirinya wafat. Dalam tulisan-Nya, Beliau tidak hanya meminta kepada putra-Nya yang tertua yaitu ‘Abdu’l Bahá sebagai penafsir sah dari Tulisan-Tulisan Bahá’i namun juga menjadi teladan yang sempurna bagi semangat dan ajaran-ajaran Agama-Nya.

Setelah wafatnya Bahá’u’lláh, karakter ‘Abdu’l Bahá yang luar biasa, pengetahuan-Nya dan juga pengabdian tanpa pamrihnya-Nya kepada umat manusia, menyajikan suatu contoh tindakan nyata dari Ajaran-ajaran Bahá’u’lláh dan ini membawa kekuatan yang luar biasa bagi agama-Nya yang secara cepat menyebar ke seluruh dunia.

Kepemimpinan ‘Abdu’l Bahá didedikasikan untuk memajukan Agama Ayah-Nya serta cita-cita untuk perdamaian dan persatuan. Mendorong dan membangun lembaga-lembaga Bahá’i ditingkat lokal, dan membimbing inisiatif di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Setelah Beliau dibebaskan dari pemenjaraan selama lebih dari 40 tahun, ‘Abdu’l Bahá mengadakan serangkaian perjalanan yang membawa Beliau ke Mesir, Eropa dan Amerika Utara. Dalam setiap saat dari hidup-Nya, menyajikan dengan kesederhanaan yang sempurna baik kepada golongan yang tinggi maupun orang awam, pesan Bahá’u’lláh bagi pembaharuan rohani dan sosial umat manusia.

Shoghi Effendi – Wali Agama Bahá’i (1897-1957)

Untuk menjamin agar Wahyu-Nya mencapai tujuan untuk menciptakan suatu dunia yang bersatu, dan untuk melindungi kesatuan masyarakat Bahá’i, Bahá’u’lláh menunjuk putra-Nya yang tertua yaitu ‘Abdu’l Bahá sebagai Pusat Perjanjian-Nya dan memerintahkan untuk didirikannya Balai Keadilan Sedunia. Sedangkan ‘Abdu’l Bahá membuat prinsip-prinsip dasar bagi beroperasinya Balai Keadilan Sedunia, mengatakan bahwa setelah Beliau wafat, pengikut Bahá’i harus berpaling kepada cucu-Nya yang tertua, yaitu Shoghi Effendi yang Dia tunjuk sebagai Wali Agama Tuhan.

Balai Keadilan Sedunia dan juga Sang Wali bertugas untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dan hukum-hukum Agama, melindungi Lembaga Bahá’i dan membimbing Agama Bahá’i agar perkembangannya selaras dengan kemajuan masyarakat.

Selama 36 tahun, dengan pandangan ke depan yang luar biasa, kebijaksanaan dan pengabdian, Shoghi Effendi secara sistematik membimbing, memperdalam pemahaman dan kekuatan persatuan dari masyarakat Bahá’i, sampai ke tingkat dimana perkembangannya semakin mencerminkan keragaman dari seluruh ras umat manusia.

Dibawah arahan Shoghi Effendi, suatu sistem istimewa yang dirancang oleh Bahá’u’lláh untuk menjalankan urusan-urusan masyarakat berkembang secara cepat di seluruh dunia. Dia menerjemahkan Tulisan-tulisan suci Bahá’i ke dalam bahasa inggris dan membangun pusat rohani dan administrasi Bahá’i di Tanah Suci, juga dalam ribuan surat yang Beliau tulis, menyajikan wawasan yang mendalam tentang dimensi rohani dari peradaban dan dinamisme perubahan sosial, menyingkapkan suatu visi masa depan yang luar biasa yang sedang dituju oleh umat manusia.

Balai Keadilan Sedunia (berdiri tahun 1963)

Balai Keadilan Sedunia adalah sebuah lembaga kepemimpinan internasional bagi Agama Bahá’i dan saat ini merupakan pusat Perjanjian Bahá’u’lláh. Bahá’u’lláh memerintahkan pembentukan lembaga ini dalam kitab hukum-hukum-Nya, yaitu Kitáb-i-Aqdas.

Balai Keadilan Sedunia adalah sebuah lembaga berisi sembilan anggota, dipilih setiap lima tahun oleh anggota dari semua Majelis Rohani Nasional. Bahá’u’lláh memberikan otoritas ilahi kepada Balai Keadilan Sedunia untuk memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan umat manusia, memajukan pendidikan, perdamaian sedunia dan kesejahteraan dan melindungi kehormatan umat manusia dan kedudukan agama. Telah dipercayai untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Bahá’i sesuai dengan kebutuhan yang terus berubah dalam masyarakat, sehingga mereka diberi kekuasaan untuk memutuskan hal-hal yang tidak secara eksplisit tercantum dalam Tulisan-tulisan Suci Agama.

Sejak pemilihannya yang pertama pada tahun 1963, Balai Keadilan Sedunia telah memimpin masyarakat Bahá’i sedunia untuk membangun kapasitas mereka untuk ikut serta membangun peradaban dunia yang sejahtera. Bimbingan Ilahi yang diberikan dari Balai Keadilan Sedunia memastikan adanya kesatuan pikiran dan tindakan dalam masyarakat Bahá’i, yang sedang belajar mewujudkan ke dalam kenyataan, visi Bahá’u’lláh tentang perdamaian sedunia.

“Dan karena setiap hari selalu ada masalah baru dan bagi setiap masalah harus ada pemecahan yang layak, maka hal tersebut harus dirujuk kepada Balai Keadilan, dimana mereka harus bertindak sesuai dengan kebutuhan zamannya.” Bahá’u’lláh

 

sumber: bahaiindonesia.org

Category: Uncategory | Views: 341 | Added by: edys | Tags: agama, bahai | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar