menu

7:26 PM
Kebiasaan
"Kita adalah budak dari kebiasaan kita" begitulah salah satu ungkapan yang menggambarkan bagaimana kuatnya daya kendali sebuah kebiasaan. Sebuah kebiasaan yang telah mendarah-daging dalam diri seseorang akan menjadi sebuah perangkat yang menggerkan seseorang dalam prilaku otomatis. Jika itu adalah seperangkat kebiasaan-kebiasaan yang baik, tentu tidaklah masalah dan bagus adanya. Tapi jika itu adalah seperangkat kebiasaan-kebiasaan buruk, maka tentulah akan menjadi sebuah masalah. Karena begitu melekatnya sebuah kebiasaan, sering kali diperlukan sebuah usaha yang tidak mudah untuk merubahnya.
 
Kebiasaan terbentuk akibat dari sebuah prilaku yang dikerjakan secara berulang-ulang dalam satu kurun waktu yang panjang, sehingga ia terekam dengan kuat di alam bawah sadar seseorang dan juga di dalam memori ototnya. Mylin adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komponen dari memori otot atau muscle memory yang terbentuk akibat dari sebuah prilaku yang berulang-ulang dan terus menerus. Itulah juga kenapa kita terbiasa menyebut sebuah prilaku yang telah menjadi kebiasaan dengan sebuatan "telah mendarah-daging". Hal ini karena memang prilaku tersebut benar-benar telah terekam di dalam darah dan daging kita.

Pentingnya masalah kebiasaan ini adalah dikarenakan bagaimana kondisi dan nasib hidup kita sangat ditentukan dari kebiasaan hidup yang kita miliki. Jika dalam diri kita telah tertanam seperangkat kebiasaan-kebiasaan yang baik, maka dapat dipastikan kondisi dan nasib hidup kita juga akan baik adanya. Sebaliknya jika yang tertanam dalam diri kita adalah seperangkat kebiasaan-kebiasaan yang baruk, maka akan menjadi buruk pula kondisi dan nasib hidup kita. Oleh karenanya masalah membentuk kebiasaan ini adalah sebuah urusan yang sangat penting dan harus menjadi suatu kegiatan inti dalam hidup kita. Ingat bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang sebelum ia merubah apa yang ada pada dirinya. Perubahan pada diri kita, pada prilaku kita, pada kebiasaan kita, pada karakter dan sikap hidup kita adalah berarti sama dengan berubahnya nasib kita.

Membentuk sebuah kebiasaan baru adalah lebih mudah dari merubah sebuah kebiasaan lama dan menggantinya dengan kebiasaan yang baru. Sama halnya dengan lebih mudah membangun sebuah rumah yang benar-benar baru dari pada harus membongkar rumah yang lama untuk digantikan dengan rumah yang baru. Namun bagaimana pun kita harus membentuk seperangkat kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri kita, dan membongkar kebiasaan-kebiasaan lama kita yang tidak baik.

Beberapa bentuk kebiasaan penting yang dapat menjadi acuan kita dalam uapaya mebangun kebiasan yang positif, dapat kita rujuk dari Stephen Covey. Stepehen Covey pernah menyusun bentuk-bentuk kebiasaan atau prilaku yang dikenal dengan "The Seven Habbits of Highly Effective People".

1. Be Proactive - Bersikap Proaktif

Dalam ini kita harus memiliki pandangan bahwa nasib hidup kita adalah tergantung dari perbuatan diri kita sendiri. Bahwa kitalah yang membentuk dan menciptakan nasib kita sendiri. Kita diciptakan dengan seperangkat kebebasan untuk menentukan sikap hidup dan perbuatan yang kita pilih untuk kita lakukan. Bersikap proaktif berarti mengambil inisiatif untuk menciptakan keadaan yang lebih baik. Besikap proaktif berarti peduli dan merasa bertanggung jawab untuk menciptakan keadaan yang baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita serta mengambil langkah-langkah yang selaras dengan prinsip-prinsip kehidupan. Bersikap proaktif berarti tidak menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan atau menyalahkan keadaan dan menganggap diri hanyalah sebagai korban serta melepaskan semua tanggung jawab. Bersikap proaktif berarti tidak pasif atau memilih untuk diam saja tanpa kepedulian serta pasrah membiarkan sesuatu yang tidak benar dan tidak baik terjadi.

Hal lain yang juga mesti dimengerti adalah bahwa sikap proaktif berbeda dengan sikap reaktif. Sikap reaktif adalah bereaksi terhadap keadaan dan stimulus yang terjadi diluar berdasarkan kepada emosi semata tanpa pertimbangan dan menselaraskan diri dengan prinsip-prinsip yang benar. Orang yang bersikap reaktif membiarkan diri mereka dikuasi oleh keadaan dan stimulus dari luar yang berakibat hilangnya pengendalian diri dan gagal untuk memilih respon yang tepat. Sedangkan mereka yang proaktif mereka tetap bersikap tenang dengan pengendalian diri yang baik, dan tidak membiarkan dirinya hanyut oleh keadaan dan stimulus dari luar serta dengan seksama memikirkan respon dan langkah terbaik yang perlu diambil demi kebaikan yang bersifat luas.

 

2. Begin With The End In Mind - Mulailah Dengan Gambar Akhir dalam Pikiran

Segala sesuatu selalu dimulai dengan sebuah gambar akhir. Dan penciptaan selalu berjalan dalam dua tahapan. Penciptaan dalam imajinasi dan penciptaan dalam wujud nyata. Penciptaan manusia dimulai dari sebuah sel tunggal yang terus membelah dan memperbanyak diri, yang mana di dalam sel tersebut terdapat DNA yang berisi genetika atau sebuah rencana menyeluruh dari penciptaan manusia tersebut. Penciptaan alam semesta ini juga bermula dari sebuah titik yang bervolume nol yang berisi sebuah master plan penciptaan alam semesta yang kemudian meledak dan terbentuklah alam semesta sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Begitu juga halnya dengan pohon yang bermula dari sebuah biji atau benih yang di dalamnya berisi informasi sebuah rancangan menyeluruh dari pohon yang akan diwujudkan. Seperti itulah mekanisme penciptaan berjalan. Dan tentu kita juga harus menselaraskan diri dengan hukum-hukum tersebut. 

Berdasarkan hal ini kemudian dalam menjalani kehidupan, kita mestilah selalu memulainya dengan sebuah gambar akhir. Dengan sebuah perencanaan. Ingin menjadi seperti apa diri kita, ingin seperti apa kehidupan kita, harus dapat kita definisikan secara tepat, kita visualisasikan dengan baik dan kita tuangkan dalam sebuah perencanaan yang jelas.

 

3. Put First Things First - Dahulukan yang Utama

Kemampuan menentukan skala prioritas mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan seseorang. Kegagalan dalam hal ini dapat berakibat fatal dan mebuat kehidupan seseorang menjadi tidak efektif dan efisien. Kebanyakan orang sering kali keliru dalam menentukan skala prioritas, dimana mereka memandang bahwa urusan-urusan yang paling mendesaklah yang harus diprioritaskan. Padahal tidaklah selalu demikian. Urusan yang mendesak belumlah tentu penting. Dan urusan yang penting juga tidak bisa diukur dari seberapa mendesak urusan tersebut. Urusan yang penting adalah urusan-urusan yang bersentuhan langsung dengan nilai-nilai dan dengan tujuan-tujuan yang bersifat luas dan memiliki pengaruh yang besar baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan urusan yang mendesak umumnya hanyalah berkaitan dengan masalah batasan waktu. Disinilah kita dituntut untuk dapat secara bijak dan cermat menentukan urusan mana yang harus kita dahulukan dan yang mana yang ditempatkan dalam skala prioritas yang kemudian. Urusan-urusan yang mendesak tentu tidak boleh diabaikan, namun urusan-urusan yang penting juga tidak boleh dikalahkan oleh urusan-urusan yang hanya besifat mendesak saja. Yang lebih keliru lagi adalah orang yang mebuat skala prooritas berdasar suka tidak suka. Apa yang ia sukai itu yang ia utamakan dan ia tidak sukai, itu yang ia kebelakangkan. Kekeliruan ia, kekeliruaan yang berbahaya karena tidak semua hal dan tidak selalu apa yang kita suka itu baik dan penting, dan tidak selalu apa yang tidak kita suka itu tidak baik dan tidak penting.

 

4. Think Win-Win - Berpikir Menang-Menang

Berpikir menang-menang berarti selalu berorientasi kepada kepentingan bersama, manfaat bersama dan keuntungan bersama. Berpikir menang-menang adalah sebuah pondasi yang kuat bagai jalinan sebuah hubungan dan kerja sama. Mereka yang berpikir menang menang-menang mengambil upaya yang membuat dirinya menang dan juga memastikan bahwa orang lain juga menang. Yang tidak benar adalah orang yang berpikir menang-kalah. Dimana mereka hanya peduli kepada kepentingan, keuntungan dan kemenangan dirinya dan tidak penting bagi mereka apa kepentingan orang lain; dan apakah orang lain menikmati kemenangan dan keuntungan juga atau kalah dan merugi. Mereka yang hidup dengan mindset demikian tidak akan dapat membangun sebuah hubungan yang kuat dengan orang lain. Yang lain dari itu, adalah orang-orang yang berpikir kalah-menang. Orang-orang ini adalah orang-orang yang memiliki timbang rasa yang kadang berlebihan. Dia cenderung membiarkan kepentingannya diabaikan dan dikalahkan, dan membiarkan orang lain menikmati keuntungan dan kemenangan. Dalam takaran tertentu dan situasi tertentu ada kalanya ia baik. Namun walaupun demikian, ini tetaplah tidak bisa menjadi sebuah standar yang baik. Standar sikap yang benar adalah saya dan anda harus sama-sama menang.

Mereka yang berpikir menang-menang adalah mereka yang berpikir kelimpahan dan mereka yang berpikir menang-kalah adalah mereka yang berpikir kelangkaan. Mereka yang berpikir menang-menang melihat bahwa adalah begitu banyak kelimpahan untuk dibagi bersama. Bahwa dalam kehidupan ini tersedia begitu banyak kelimpahan yang memungkin setiap orang untuk menikmati kemenangannya masing-masing. Sedang mereka yang berpikir menang-kalah, mereka melihat hidup hanya menyediakan kemenangan bagi sebelah pihak. Jika yang satu menang maka yang satu harus kalah atau untuk menang berarti sama dengan mengalahkan orang lain.

 

5. Seek First to Understand, Then to be Understood - Berusaha Memahami Dulu, Baru Dipahami

Salah satu kekuatan dari komunikasi yang baik adalah kemampuan untuk mendengarkan. Karena melalui kesediaan untuk mendengarkan; mendengarkan dengan empati, kita akan mampu mencapai pemahaman yang baik. Dan dengan pemahaman yang baik kita dapat membangun sebuah komunikasi dan hubungan yang baik pula. Sering kali buntunya sebuah komunikasi atau buntunya sebuah hubungan disebabkan oleh karena setiap orang mengedepankan tuntutan agar orang lain memahami dirinya dan enggan untuk berusaha memahami terlebih dulu. Dan ketika masing-masing pihak bersikap demikian, maka komunikasi yang baik tidak akan dapat di capai dan hubungan yang baik tidak akan dapat dijalin. Mengambil sikap untuk berusaha mengedepankan memahami dulu dan secara tulus berusaha mendengarkan dengan empati, kita akan memancarkan getaran-getaran respek, penghargaan, dan rasa pedulu kepada rekan bicara kita. Dan ketika ia telah merasa dirinya dipahami; meresa didengarkan, maka dengan sendirinya ia akan membuka diri dan juga mengambil sikap yang serupa. Dan ketika itu terjadi maka tujuan-tujuan komunikasi tersebut dapat dicapai, dan hubungan yang kuat dapat dijalin.

 

6. Synergize - Sinergi

Manusia ditakdirkan untuk saling membutuhkan satu dengan yang lannya. Manusia ditakdirkan tidak bisa dan tidak mungkin bisa hidup sendiri. Kesempurnaan manusia hanya dapat dicapai melalui kebersamaan. Melalui kerjasama. Melalui sinergi. Sinergi memungkin kita dapat melakukan hal-hal yang besar, menyelesaikan masalah-masalah yang sulit, dan menciptakan karya-karya yang besar. Terlalu sedikit yang bisa kita lakukan seorang diri, dan kita sangat terbatas. Oleh karena itu mereka yang menyadari hal ini akan selalu berpikir membangun sinergi dengan orang lain. Ia memandang orang lain sebagai kawan yang dapat memperkuat dirinya. Ia akan mudah untuk mentolerir perbedaan-perbedaan dan berusaha membangun hubungan yang saling memahami dan saling memperkuat. Ia tidak akan bersaing dengan orang lain.


7. Sharpen the Saw - Mengasah Gergaji

Kebiasaan ini berkaitan dengan upaya untuk terus mengembangkan dan memperbaiki diri secara mental, fisik, emosional, dan spiritual dengan seimbang. Fisik yang sehat, pikiran yang tenang, jernih dan cerdas, emosi yang damai dan terkedali, spiritualitas yang mendalam adalah sebuah kombinasi yang sangat dasyat. Maka dari itu penting bagi kita untuk fokus memperhatikan keseluruhan dari diri kita. Diri kita yang holistik.

Category: Tata Jiwa | Views: 458 | Added by: edy | Tags: kebiasaan, nasib, karakter | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar