menu

8:00 PM
Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan manusia.

Qul A'udzu Birabbinnas (QS-114:1)
Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan manusia.

Tentu dengan tujuan dan maksud yang pentinglah penggunaan istilah Tuhan manusia digunakan dalam ayat ini. Dalam ayat ini Allah disebut secara khusus sebagai Tuhannya manusia; walau sebagaimana kita tahu Allah bukan saja hanya Tuhan bagi manusia, melainkan juga Tuhan bagi segala mahluk dan Tuhan bagi seluruh alam. Jadi pengkhususan sebutan Tuhan manusia pada ayat ini adalah dimaksudkan agar kita dapat melihat dan mengenali Tuhan dari sudut pandang yang lebih tajam yaitu sebagai Tuhannya manusia. Dari sudut pandang ini pengelihatan kita akan terarahkan pada mengenali maksud dari penciptaan kita. Kita tahu bahwa setiap mahluk mempunyai maksud penciptaannya sendiri dan mempunyai ketetapan masing-masing tentang cara mereka memuliakan Tuhan. Air memuliakan Tuhan dengan cara menjadi air, pohon memuliakan Tuhan dengan cara menjadi pohon, burung-burung memuliakan Tuhan dengan cara menjadi burung, para malaikat memuliakan Tuhan dengan menjadi malaikat dan zin dan manusia pun harus memuliakan Tuhan dengan cara menjadi dirinya sendiri. Manusia tidak boleh hidup seperti binatang dan binatang pun tidak perlu hidup seperti manusia. Manusia tidak harus hidup seperti malaikat dan malaikatpun tidak akan hidup seperti manusia. Setiap mahluk beribadah kepada Allah dengan caranya masing-masing.

Dikatakan di dalam Qur’an bahwa manusia adalah mahluk yang Allah ciptakan menurut fitrah-Nya. Allah tanamkan dalam diri manusia sifat-sifat-Nya, yang dengannya itu manusia akan dapat berperan sebagai wakil Allah atas dunia ini. Dengannya itu juga manusia akan dapat mencapai pengenalan kepada Allah melalui jalan mengenali maksud dari penciptaannya. Manusia harus membaca dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya untuk dapat mengenal Allah dengan sebaik-baiknya. Melalui pengenal akan dirinya inilah manusia akan dapat melihat kendak Allah atas manusia dan ukuran-ukuran kebenaran bagi manusia. Manusia hanya akan disebut benar oleh Allah jika hidup menurut kehendak dan ukuran-ukuran kebenarn bagi manusia tersebut. Manusia tidak bisa memakai ukuran kebenaran untuk binatang atau mahluk lainnya sebagai ukuran untuknya. Bagi binatang, tidak ada dosa baginya hidup menurut ukuran-ukuran kebinatangan; tapi bagi manusia hidup dengan ukuran kebinatangan adalah sebuah dosa.

Ukuran kebenaran bagi manusia adalah peri-kemanusiaannya. Perikemanusiaan ini adalah cahaya ilahi yang ada di dala diri manusia. Perikemanusiaan ini adalah suara di lubuk hati terdalam manusia yang mengharuskan manusia untuk saling mengasihi, mengharuskan manusia untuk berlaku adil terhadap manusia lainya, mengharuskan manusia untuk hidup secara beradab, mengharuskan manusia untuk tidak berlaku curang kepada manusia lainnya dan mengharuskan manusia untuk hidup menurut nilai-nilai kebaikan yang ada padanya. Perikemanusiaan ini adalah jalan keselamatan bagi manusia. Ketika manusia mematuhi nilai-nilai tersebut maka ia kan memperoleh keselamatan. Tapi jika manusia mengingkarinya maka ia kan menjadi celaka. Oleh karennya dapatlah kita pahami bahwa wujud dari berlindung kepada Tuhan manusia sebagaimana diserukan pada ayat di atas adalah dengan hidup sesuai dengan fitrah kita atau hidup sesuai dengan maksud penciptaan kita sebagai manusia.

Category: Uncategory | Views: 392 | Added by: edys | Tags: qur'an, manusia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar